Judul Buku : Leafie - Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya
Judul Asli: Madangeul Naon Amtak
Penulis: Hwang Sun-mi
Ilustrator: Kim Hwan Young
Alih Bahasa: Dwita Rizki Nientyas
Penerbit: Qanita
Tempat Terbit: Bandung
Tahun Terbit: Februari, 2013 (Cetakan Pertama)
Tebal Buku: 224 halaman
ISBN: 978-602-922-575-4
LEAFIE adalah seekor ayam betina yang punya satu
impian sederhana : mengerami dan menetaskan anak ayam. Sayangnya, mimpi Leafie
mustahil terwujud karena ia sudah berhenti bertelur. Begitupun, dari celah
kandang sempitnya, ia terus memelihara mimpinya sembari mengagumi dedaunan
akasia yang tumbuh di halaman. Lewat tokoh Leafie, buku ini mengetuk kesadaran
bahwa meskipun mimpi dapat saja hancur, ia tidak dapat dimusnahkan. Mimpi dapat berubah bentuk, dan selagi
seseorang masih dapat bermimpi, ia tidak akan kehilangan dan keberanian.
Agaknya Hwang Sun-mi, penulis buku ini, menciptakan
karakter Leafie sebagai personifikasi dirinya yang mengidap penyakit jantung
namun tetap memelihara mimpi untuk menjadi polisi, atau penyidik. Sadar akan kelemahan fisiknya, ia
mengagumi sosok yang tangguh mempertahankan mimpi seperti Leafie.
Dikemas dalam bentuk fabel kontemporer, Leafie tidak
hanya memikat pembaca asal Korea. Setelah diangkat sebagai film animasi pun,
kisah ini disambut baik di festival Cannes dan menjadi Best Family Film 2011 di
Sitges Festival, Spanyol. Keberhasilan
ini mengesankan bahwa dunia rindu diingatkan akan kekuatan mimpi.
Secara keseluruhan, penyajian kisah Leafie menimbulkan
kesan yang hangat, sederhana, dan ringan. Begitupun, pemaknaan mendalam dari
berbagai konflik tersaji apik lewat sudut pandang Leafie. Jalan ceritanya pun
terjalin apik. Kejutan terbesar terletak di akhir cerita ketika akhirnya Leafie
dapat memandang Musang, musuh besarnya, dengan sudut pandang penuh kasih.
Namun, kekuatan ceritanya justru terletak pada penggambaran emosi yang kuat.
Membacanya, kita seolah dapat merasakan pergumulan Leafie.
Pada awal kisah, Leafie yang sangat ingin menetaskan
anak ayam mendapati dirinya tidak lagi dapat bertelur. Dalam kondisi masih
hidup, ia dibuang ke lubang pembuangan ayam sekarat. Namun begitu, Leafie masih
ingin hidup, dan dengan bantuak bebek pengelana liar ia dapat meloloskan diri
dari Musang yang mengintainya di dekat lubang. Bersama bebek, Leafie sementara
tinggal di halaman petani. Sayangnya, para ternak penghuni halaman tidak mau
menerima Leafie.
Suatu hari, Leafie menemukan telur di semak mawar, dan
memutuskan untuk mengeraminya. Anehnya, bebek pengelana terus menjaga Leafie, dan bahkan mengorbankan
diri menjadi mangsa Musang untuk menyelamatkannya. Ketika akhirnya menetas,
Leafie akhirnya sadar bahwa telur yang ia erami adalah telur bebek, dan anak
itik yang diasuhnya itu adalah anak si bebek liar. Begitupun, Leafie tetap
membesarkan Greenie, si anak itik, dengan penuh kasih.
Kehidupan di padang tidaklah mudah bagi Leafie dan
Greenie. Mereka harus terus berpindah tempat dan waspada terhadap ancaman
Musang. Ditempa berbagai kesulitan, Leafie berubah makin tangguh, dan Grennie
pun tumbuh menjadi bebek liar yang kuat. Perlahan Leafie sadar bahwa lambat
laun Grennie akan bergabung dengan kawanan bebek liar dan pergi
meninggalkannya. Meski berat, Leafie pun melepas anak itik kesayangannya pergi.
Kisah tidak berhenti di situ untuk Leafie. Meski satu
per satu mimpinya telah terwujud: mengerami telur, menetaskan telur, dan membesarkan
anak, ia akhirnya mempunyai satu mimpi terakhir, “Aku juga ingin terbang. Aku
ingin terbang mengikuti mereka!” Tetapi, dapatkah seekor ayam terbang?
Berhasilkan Leafie mewujudkan mimpi terakhirnya?
Sulit untuk tidak jatuh cinta pada tokoh Leafie yang
menjalani kehidupannya dengan penuh keberanian, sadar akan kehendak bebasnya,
dan tidak menyerah mewujudkan mimpinya. Dengan berani ia tidak mengambil ‘mentalitas
korban’ dan dengan sadar memilih menentukan hidupnya sendiri – dimulai dengan
menamai dirinya sendiri Leafie yang berarti Dedaunan.
“Dedaunan adalah ibu dari para bunga. Bernapas sambil bertahan hidup walau dihembus angin. Menyimpan cahaya matahari dan membesarkan bunga putih yang menyilaukan mata. Jika bukan karena dedaunan, pohon pasti tidak dapat hidup. Dedaunan benar-benar hebat.” “Leafie – dedaunan … Benar, nama yang sangat cocok untukmu,” pungkas Pengelana. (Hal. 85)
Setiap pembaca, tak peduli anak, remaja, atau dewasa niscaya
dapat melihat cerminan dirinya pada tokoh Leafie yang pantang menyerah. Ayam
betina buruk rupa ini berhasil menyampaikan pesan sang penulis: bahwa mimpi mungkin berubah tapi tak dapat musnah.
[CU-NOV16]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar