Minggu, 30 Oktober 2016

Aleph



Judul Buku : Aleph
Judul Asli : O Aleph (Bahasa: Portugis)
Penulis : Paulo Coelho
Penterjemah : Margaret Jull Costa  (Bahasa Inggris)
Genre : Novel
Penerbit : Alfred A Knoff
Tahun terbit : 2011
Halaman : 288
eISBN : 978-0-307-95701-6
Rating saya : 4/5


Pernahkah kau merasa ‘mandeg’ (stagnan,  diam di tempat dan tidak dapat maju)? Lalu, adakah lahir tanya apakah memang jalan hidup sudah disuratkan cukup sampai titik ini, dan kemudian tanya itu terus menjadi: haruskah menerima begitu saja dan berhenti atau terus ‘memaksakan keberuntungan’ untuk terus tumbuh?

Saya yakin bahwa tanya itu adalah keresahan entah berapa banyak mausia lain, dan Coelho adalah salah satunya. Lewat memoarnya, ia pun membagikan kisahnya dalam menjawab keresahan itu lewat sebuah perjalanan.


Memoar Perjalanan Sang Penulis
Setelah 24 tahun menekuni tradisi spiritual, Coelho menemukan kebuntuan. Segala upayanya bagai tanpa hasil, dan ia mulai menyangsikan jalan yang ia pilih. Pada saat itulah J, sang guru spiritual, menyarankan agar ia merebut kembali ‘kerajaannya’ dengan sekali lagi mempercayai tanda-tanda yang diberikan semesta lewat sebuah peziarahan.

Salah satu pertanda pun datang pada sebuah pesta. Coelho dan istrinya bertemu dengan seorang cenayang yang meramalkan bahwa Celho harus melakukan peziarahan menuju “Jiwa Turki” dan akan menumpahkan darah di sana. Menganggap ramalan itu angin lalu, Coelho pun sempat melupakannya, namun ia tidak lupa akan saran untuk melakukan peziarahan. Kali ini, Coelho berhasil meyakinkan pihak penerbitnya untuk mempromosikan buku barunya melintasi jalur kereta api trans-Siberia yang membelah Rusia sejauh 9.288 km dan melintasi 7 wilayah waktu yang berbeda.

Saat singgah di sebuah kota, Coelho bertemu dengan Hilal, seorang gadis Turki pemain biola berbakat yang bersikukuh ingin menemaninya melintas Rusia. Awalnya Coelho menolak keberadaan Hilal; namun, di atas kereta trans-siberia itulah ia berhasil menemukan Aleph, yakni saat seluruh ruang dan waktu dalam semesta menyatu, dalam sorot mata hijau Hilal.

Sejak saat itu, pandangan Coelho terhadap Hilal berubah. Perlahan ia sadar bahwa mereka pernah bertemu di inkarnasi sebelumnya, ketika Coelho membunuh Hilal. Dihantui perasaan bersalah, Coelho pun mencoba untuk meminta pengampunan Hilal yang buta akan apa yang terjadi pada inkarnasi sebelumnya.

Akankah Hilal mengampuni Coelho, atau akankah darahnya tertumpah dalam perjalanannya menuju Hilal, si Jiwa Turki? Menurut saya, bukan jawaban dari pertanyaan ini yang menarik, tapi perjalanan batin untuk sampai di sanalah yang lebih sarat makna.

Perjalanan : Menghidupi Legenda Pribadi
Hidup adalah sebuah perjalanan: mengalir dari satu tempat menuju tempat lain, dari satu keadaan menuju keadaan lain. Perjalanan pun tak melulu bicara soal ranah fisik, tetapi juga spiritual.

Tema perjalanan paralel di ranah fisik dan spiritual inilah yang terasa kental dalam buku ini. Lewat novel yang sebenarnya adalah memoar kisah nyata ini, Coelho seolah hendak berpesan bahwa untuk sampai pada satu titik kita harus berani melangkah, dan percaya semesta akan mempertemukan kita dengan sosok dan hal yang kita perlukan ketika kita berani mengambil keputusan.

Dengan kata lain, untuk menciptakan legenda pribadi kita harus berani mengambil tindakan, dan terus bertanya, “Apakah saya sudah melakukan apa yang perlu dilakukan untuk tumbuh?”

Sekeping kisah tentang ‘tumbuh’ inilah yang menjadi bagian favorit saya di buku ini. Di tengah frustasi yang menderanya, Coelho secara tidak sengaja menemukan sebuah artikel tentang bambu Cina. Tahukah Anda? Bambu Cina menghabiskan lima tahun sebagai tunas kecil demi menumbuhkan akar yang kuat. Lalu, saat ia telah siap, dalam sekejap tunas kecil itu dapat tumbuh hingga 25 meter tingginya. Ya, bambu Cina itu tahu bahwa perjalanannya berbeda dengan flora lain: karena “perjalanan untuk tumbuh” itu unik dari pribadi lepas pribadi.

Satu hal lagi tentang bambu Cina yang begitu mengesan. Ibarat bambu Cina, “akarku sudah siap, tapi aku hanya dapat tumbuh dengan bantuan orang lain,” dan untuk itu beranilah untuk menjalani dan menghidup legenda pribadimu sambil tetap percaya Tuhan telah menyiapkan apa yang kita butuhkan di sepanjang perjalanan.

Untuk sobat yang merasa ‘stuck’ alias terjebak bagai tidak dapat tumbuh lebih lagi, saya sarankan membaca buku ini.

Salamat menikmati perjalanan.

Salam,

Jumat, 21 Oktober 2016

Dengarlah Nyanyian Angin



Judul                 : Hear The Wind Sing
Pengarang         : Haruki Murakami
Penerjemah       : Alfred Birnbaum
Bahasa              : Inggris
Penerbit            : Kodansha International Ltd.
Tahun terbit      : cetakan pertama 1979
Tebal halaman  : 130
ISBN                : 9784061860261

Buku ini berkisah tentang sesosok protagonis tak bernama yang menghabiskan liburan semester musim panasnya di kampung halamannya yang terletak dekat laut. Selama delapan belas hari musim panas di bulan Agustus 1970 itu, ia menghabiskan waktu bersama ‘Rat’ di bar milik J, sahabatnya yang mengidap depresi dan terobsesi menulis novel, mendengarkan siaran radio, dan memadu kasih dengan seorang gadis berjari sembilan yang juga tidak disebutkan namanya. Sepanjang cerita, sang tokoh yang kontemplatif ini berulang kali mengenang dan merenungi kisah cintanya dengan tiga perempuan di masa lalu: teman masa sekolah menengahnya, seorang gadis hippie yang ditemuinya di stasiun, dan mahasiswa sastra Prancis yang meski berujar bahwa ia adalah ‘raison d’etre’ (alasannya untuk hidup) namun memilih bunuh diri.

Layaknya seorang perenung yang pikirannya selalu menjelajah, sang tokoh utama tidak hanya menatapi kisah cintanya namun juga hal-hal yang dari permukaan seolah tidak saling berkaitan. Sebut saja tentang piringan hitam yang tak pernah ia kembalikan, tentang gadis 17 tahun yang sakit parah dan menghabiskan waktunya di rumah sakit, tentang siaran radio musim panas, tentang Rat yang tidak pernah mau menyebut seks ataupun kematian dalam novelnya, dan tentang penulis asal Amerika yang memilih mengakhiri hidupnya dengan terjun dari menara Empire State. Membacanya, aku merasa bagaikan membiarkan diriku mengapung mengikuti arus di lautan luas; mengalir tanpa tahu kemana muara dari rentetan kisah yang sulit kutangkap benang merahnya.

Tapi, bukankah hidup memang demikian? Kita tidak pernah benar-benar tahu kemana kita dibawa, dan apa yang hendak disajikan pada kita. Lalu, jika memang hidup penuh ketidakpastian yang pasti membuat kita terombang-ambing, bagaimanakah kita dapat menemukan ‘raison d’etre’ (alasan untuk hidup) itu?


TANPA KOSMETIK
Sahabat, jika kau mencari alur yang menggigit penuh ketegangan, maka kusarankan untuk urung membaca buku ini. Ya, seperti salah satu karya Murakami yang telah kubaca sebelumnya (What I Talk about When I talkabout Running), buku ini bisa dianggap sebagai novel realistik, dan kekuatan karya ini terletak pada kesederhanaan dan kedalaman maknanya. Murakami nampak berupaya menyajikan kisah semirip mungkin dengan realita yang sesungguhnya; tanpa bubuhan kosmetik, tanpa hiasan-hiasan artifisial. Hasilnya adalah tulisan yang dari permukaan tampak sederhana namun mampu menenggelamkan pembacanya dalam perenungan yang dalam.

Sahabat, kita tahu bahwa menjadi sederhana itu bukan perkara mudah. Lebih-lebih saat kita dihadapkan pada perkara kompleks yang sulit dimengerti. Lihat saja pada penggalan ini:

I stared at it in silence, the wind from the water clearing my ears. What I felt at that time, I really can’t put into words. No, wait, it wasn’t really a feeling. It was its own completely-packaged sensation. In other words, the cicadas and frogs and spiders, they were all one thing flowing into space.”

Betapa indahnya ketika aliran hidup dan segala di dalamnya digambarkan sebagai satu paket sensasi yang utuh—yang mengalir dalam kesatuan; seperti nyanyian angin.


HIDUP ITU ...
Keterasingan dan kesepian – itulah dua tema besar yang berkali-kali muncul dalam kisah ini. Terdengar putus asa? Tunggu dulu; justru di sini terletak satu hal menarik: dalam pelbagai kenestapaan hidup, manusia tetap dapat menemukan ‘raison d’etre’ – alasan untuk hidup. Seperti tertulis dalam surat gadis yang terbaring di rumah sakit pada sang penyiar radio:

[...] bahkan dalam pengalaman muram apapun yang kau jalani, selalu ada hikmah yang dapat dipelajari, dan karena inilah aku dapat menemukan kemauan untuk tetap bertahan hidup.”

Sahabat, ada satu hal lagi yang kusukai dari kisah ini : seluruh tokohnya tidak bernama. Kalaupun disebutkan, nama itu adalah nama panggilan. Bagiku, seolah Murakami hendak menyampaikan bahwa pencarian alasan hidup bukan hanya tentang orang-orang tertentu, namun juga tentang kamu, aku dan mungkin semua orang. Ya, pertanyaan “Apa alasanku hidup?” adalah keresahan seluruh umat manusia.

Lalu, apa alasan mekanjutkan hidup yang kisahnya tidak terangkai sempurna ini? Murakami berujar:

“The truth in this life: life is empty. However, help is available. If you know from the outset, it’s almost as if life’s not really meaningless at all.”

[Kebenaran dalam hidup ini: kehidupan ini kosong. Namun, pertolongan selalu tersedia. Jika kamu tahu sedari awal, hidup tidaklah sama sekali tanpa arti.]

Ya, ternyata hidup adalah tentang memberi makna pada perjalanan fana ini.


Salam,

Minggu, 11 September 2016

Gadis Jeruk


Judul: Gadis Jeruk
Judul Asli: Appelsinpiken
Pengarang; Joostein Gaarder
Alih Bahasa: Yuliani Liputo
Penerbit: Mizan
Tahun terbit: 2011
Jumlah Halaman: 252


"Bayangkan...
Kamu boleh memilih:
apakah kamu ingin dilahirkan [...]. Kamu tidak tahu kapan akan dilahirkan, tidak juga berapa lama kamu hidup, tapi itu takkan lebih dari beberapa tahun.
Yang kamu ketahui hanyalah bahwa, jika kamu memilih untuk hadir [...] di dunia ini,
kamu harus meninggalkannya lagi suatu hari dan pergi meninggalkan segalanya.
"


Sahabat,
Jika kau diperhadapkan pada pilihan: lahir dan hadir di dunia dengan segala suka dukanya untuk pada akhirnya dicerabut dari kehidupan itu ataukah menolak menjelma lahir dan lepas dari samsara pengalaman manusia, manakah yang akan kau pilih?

Pertanyaan itulah yang diurai Gaarder dalam buku setebal 252 halaman ini. Seperti biasa, Gaarder memang ulung menenun pertanyaan-pertanyaan filosofis menjadi seuntai cerita yang manis. Ingatkah kau betapa aku terkesima dengan caranya mengisahkan berbagai aliran filsafat dalam wujud novel penuh kejutan berjudul Sophie's World? Buku ini tidak seberat itu, tapi toh tetap sarat makna. Mungkin karena tidak terlalu berat, tak terasa aku berhasil menyelesaikannya hanya dalam beberapa jam saja.

Mari kuajak menelusuri sekilas jalan cerita yang mengajak kita berpikir sedikit lebih dalam ini. 

Suatu hari, Georg yang saat itu berusia 15 tahun menerima surat dari mendiang ayahnya yang wafat 11 tahun silam. Dalam surat itu, ayahnya, Jan Olaf, menceritakan kisah cinta penuh teka-tekinya dengan sesosok Gadis Jeruk yang jelita. Pertemuan pertama sang ayah dengan si Gadis Jeruk bermula di sebuah trem. Jan Olaf muda tersihir pesona gadis ber-anorak jingga yang membawa sekantung kertas besar jeruk kualitas bagus. Ketika trem hendak berbelok, demi mencegah jeruk-jeruk itu jatuh, Jan berusaha membantu sang gadis. Namun, alih-alih menolong, sekantung besar jeruk itu justru jatuh bergelindingan memenuhi trem yang padat. Sang gadis pun turun di pemberhentian berikut tanpa meninggalkan petunjuk apa pun. Jan yang telah jatuh cinta pada gadis jeruk misterius itu pun kemudian terus mencarinya dengan berbagai cara hingga akhirnya mereka berjumpa lagi dalam beberapa kesempatan tak terduga; namun, tidak banyak petunjuk yang terungkap. Hingga pada malam Natal, Jan melihat si gadis di gereja. Ia pun bertekad membuntuti sang gadis dan mengungkap rasa cintanya. Di luar dugaan si gadis menyetujuinya dengan satu syarat: ia harus bersabar tidak menemuinya selama 6 bulan. Setelah itu ia berjanji akan menghabiskan tiap harinya pada 6 bulan berikut dengannya.

Sahabat, tidakkah ini terdengar seperti kisah dongeng? Ya, Gaarder menulis bahwa kehidupan kita bagaikan sebuah dongeng dengan aturan-aturan yang seringnya tidak masuk akal; tapi tidak dapat dibantah.

Berhasilkah Jan Olaf menemukan identitas si Gadis Jeruk? Jika kuceritakan, maka kau akan kehilangan kenikmatan membaca buku ini kelak. Maka, biarlah kusimpan bagian itu.

Mari kuajak kau melompat ke bagian lain buku ini. Pada bagian ini, di tengah berbagai kebahagiaanya (pernikahan dengan gadis impiannya, karier sebagai seorang dokter yang cemerlang, dan kelahiran putra sulungnya), Jan divonis mengidap penyakit mematikan. Ada banyak hal yang ingin disampaikannya pada Georg yang saat itu baru berusia 4 tahun. Sayangnya, Georg belum bisa mengerti konsep-konsep rumit. Maka, Jan menuliskan surat untuk dibaca putranya di masa depan; surat tentang kisah cintanya yang sedih dengan si Gadis Jeruk. Di surat yang dibaca putranya 11 tahun kemudian itu ia meminta Georg untuk memecahkan teka-teki seputar gadis jeruk dan menjawab pertanyaan mendasar tadi: akankah kamu tetap memilih untuk hidup jika tahu pada akhirnya kau akan dicerabut dari kehidupan itu?

Aku menikmati membaca buku ini. Buku ini tidak sekedar bertutur tapi juga menitipkan pesan yang mendalam. Pesan yang masih terkecap di lidah bahkan setelah halaman terakhir lama kuselesaikan. Aftertaste yang kuat seperti rasa kopi pahit yang biasa kuseruput tiap pagi. Jika ditanya bagian mana yang paling kusukai, maka itu adalah adegan dimana Jan Olaf yang tahu hidupnya akan segera berakhir menggendong Georg kecil dan mengajaknya duduk memandang bintang sambil mengisahkan ketakjubannya akan semesta luas. 

Pada akhirnya, kalau aku diberi pilihan yang sama, seperti Georg, aku akan memilih untuk hidup dan hadir di dunia ini dengan segala kefanaannya. Aku ingin mengalami pengalaman manusia dengan segala suka dukanya dan berusaha memahami tujuan hidupku di muka bumi ini.

Jika sempat, bacalah buku ini sahabat, dan bayangkan dirimu menatap lautan bintang dengan mata semesta.

Salam,







Senin, 07 Mei 2012

My Caramel Sweetheart


Seberapa manis? Ah, aku tak terlalu suka manis. Agaknya hubunganku dengan gula memang tak terlalu harmonis. Maka, butuh waktu lama buatku untuk mengenali nama warna yang tepat untuk menggambarkan bola mata kekasihku. Coklatnya tak sama dengan coklat bola mataku yang pekat. Coklatnya sewarna gula yang meleleh dan memekat terkena panas. Warna bola mata itu adalah karamel.

Untukku, tatap mata itu memang semanis gula. Jenis gula istimewa yang selalu kusuka rasanya. Menemaninya, meski dalam kurun waktu yang sangat singkat, membuatku terkesima akan manis jiwanya. Manis yang lekat namun menyegarkan. Seperti karamel yang tetap manis meski tertempa panas, kekasihku pun tetap bersikap manis meski aku tahu betapa sakit itu bertubi-tubi menderanya. Ia bisa saja berubah menjadi masam, pahit ataupun tawar; tapi seperti karamel yang melumer lembut dan manis di mulut, demikianlah ia tetap memilih bersikap hangat pada keluarga, sahabat dan paramedis yang merawatnya. Kekasihku memang semanis karamel.

Gambaran coklat karamel itu seolah tak dapat hilang hingga kini. Rasanya cukup aneh karena selama lebih dari tiga tahun berteman, baru sekali aku benar-benar menatap matanya. Lagipula, mana berani aku menatapnya lekat? Aku dibesarkan dengan pesan bahwa pantang menatap orang tepat di mata. Terlebih orang yang kita hormati. Tambahan lagi bola mata itu selalu terlindung di balik selapis lensa. Begitupun, hanya perlu sekali untuk membuatku terpesona dan hanyut dalam lingkaran karamel itu.

Ingin rasanya aku bertanya pada kekasihku, apa yang dilihatnya lewat bola karamel itu. Bagaimana caranya mencintaiku tanpa syarat. Sayang aku tak akan pernah tahu apa yang dilihatnya ada padaku yang teramat biasa dibandingkan dengan entah berapa puspa indah yang mengerumuninya. Disandingkan dengan mereka, aku hanyalah ibarat kembang rumput liar kusam di tepi jalan. Sayang, si karamel itu kini sudah tak lagi menatapku. Kekasih karamelku yang manis telah nyaman di pangkuan-Nya.

Tidak pernah kucoba memungkiri betapa rindu memenuhi dada dan terasa demikian menyesak karena tak dapat lagi kupersembahkan. Pada saat demikian, aku menutup mata dan menyanyikan gita tentang penyertaan-Nya yang sempurna, sama seperti ketika aku menatap lekat bola mata itu sambil mengidungkan lagu memuji Sang Pemilik Hidup. Aku akan selalu tersentuh mengenang sorot karamel itu seolah terhanyut dalam lantun suaraku yang demikian sederhana. Banyak nada yang hilang tertelan air mata namun si manis karamel terus membuatku berani berkidung.

Ombak dan gelombang kesedihan menghantam kami demikian keras ketika akhirnya sorot karamel itu terpejam dalam tidur panjang. Ia akhirnya harus pulang ke tempat yang jauh lebih baik. Butuh waktu lama buatku mampu memahami arti kepasrahan yang justru membuatnya bahkan makin manis. Butuh jutaan detik hingga aku dapat melihat dan mengucap syukur bahwa kekasihku diijinkan-Nya mengakhiri pertandingan hidupnya dengan teduh dan manis – dalam doa di tengah orang-orang yang dikasihi dan mengasihinya dengan iman teguh yang tak tergoyahkan. Sampai akhir salib itu setia dipanggulnya.

... dan kini tiap kuucap doa, betapa aku terkagum akan karya-Nya yang mengijinkan kekasih karamelku pulang dengan akhir yang manis untuk memulai awal yang manis pula bersama-Nya.

Rabu, 18 April 2012

Jatuh Cinta Berkali-Kali

Senja itu surat cintaNya buat saya
Gambar dari : http://desktopia.net/nature/beach-at-dusk-desktop-wallpaper/

Rembang senja mengembangkan malam. Mentari yang seharian perkasa menerangi bumi kini menjadi serupa bola jingga yang berangsur undur diri. Perlahan warna langit pun berganti; tidak pernah ia sedemikian kaya nuansa selain saat senja tiba. Waktu jadi kehilangan makna; semua seolah membeku dalam keindahan lukisan bentang langit.

Angkutan umum yang saya tumpangi melaju ke arah timur; berangsur menjauhi bola api yang perlahan terbenam di ufuk barat. Saya menjadi penumpang tunggal setelah dua orang lain turun di sisi jalan beberapa menit lalu. Kesendirian membuat perhatian saya terpusat pada senja, langit dan segala pesonanya.

.... indah.....

Sang Pemilik Semesta selalu saja berhasil membuat saya jatuh cinta berkali-kali. Bagi saya, senja itu bagai surat cinta-Nya. Pesan bahwa apapun pergumulan hari ini sudah cukup; kesusahan hari ini sudah cukup untuk hari ini, dan dalam pekat malam yang terhampar di hadapan Ia menyediakan tempat persembunyian kecil untuk beristirahat -- saat untuk berbincang denganNya tentang pergulatan hari ini.

Sekelam, sepahit, seberat apa pun hari ini sudah selesai; ia telah ditebus oleh lembayung senja itu. Ketika esok menjelang dengan tantangannya yang kadang nyaris tak tertahankan, saya akan menantikan senja -- saat Sang Maha Kasih menuliskan surat cintanya buat kita semua, "cukup untuk hari ini. Beristirahatlah sayang...."

... dan senja itu selalu saja membuatku jatuh cinta berkali-kali...

Hujan


Gambar dari:
http://www.205thw.ph/wp-content/uploads/2011/09/rainy-days.png
Dedaunan menyukai hijau. Fajar selalu rindu pada jingga. Senja tresna pada lembayung. Seperti laut lekat pada biru dan puspa bangga akan semburat berkas pelangi di mahkotanya. Tapi bumi lebih memilih kelabu sendu. Dunia penuh nuansa warna semarak, namun bumi tetap setia pada kelabu muram.

... dan bumi pun unjuk bicara ...

"Kelabu mengingatkanku pada langit. Langit yang kukasihi dengan sangat. Tidakkah kau tahu betapa tiap detik tak letih aku menengadah menatap langit?"

"Malang langit tak pernah tergapai. Apakah aku ini? Hanya seberkas debu. Hina dina aku hingga di ujung sepatu pun aku tak diingini. Namun aku tetap mencintai langit meski tak mungkin tanganku merengkuhnya. Aku memang ngeyel -- konyol. Sayang, apa dayaku. Aku sudah terlanjur mencinta."

"Bunga suka pada langit nan biru. Kelopaknya bermekaran menawan centil di bawahnya. Para pekerja bersorak girang ketika ia berjubahkan lembayung ungu. Pertanda malam menghantar rehat sejenak. Sedang nelayan pun pelaut berjaga menunggu jingga saat daratan nampak di pelupuk-- mengijinkan tubuh lelah mereka bersandar."

"Aku pun menyukai semua warna langit -- tapi aku selalu rindu pada kelabu pengiring hujan dan kadang badai. Semua serentak bersembuyi, bahkan tetumbuhan pun seolah merunduk kala langit berselimut kelabu -- tapi aku selalu rindu pada kelabu."

"Kelabu adalah balas langit atas segala rinduku. Kala ia telah menyelubungi dirga -- makin lama makin pekat , itulah bahasa langit yang tak dapat lagi membendung kasihnya pada hamba hina dina ini. Perlahan kelabu luruh bersama tetes-tetes air mata langit. Jatuh ia luruh memelukku erat. Saat itulah langit turun menyapaku -- mesra dan syahdu. Perlahan kelabu akan memudar, dan di sanalah selengkung busur warna-warni membentuk titian ke arah langit. Ia serasa demikian dekat -- tak berjarak."

"Ah langit, karena aku tak mungkin meraihmu, kau turun menyapaku."

"Itulah mengapa aku begitu kasmaran pada kelabu saat yang lain mengagumi biru. Ternyata aku lebih membutuhkan kehadiran langit, bukan hanya hadiah-hadiahnya yang menyilaukan mata. Aku mencintai langit saat biru, jingga, ungu dan terlebih saat ia kelabu."

Selasa, 27 Maret 2012

Di sana


Suatu hari nanti
Aku akan terjaga di sana
Di tempat kemilau cahaya
menari sepanjang hari
Dan entah kapan

langkahku tak lagi memijak tanah berbatu
‘karna kan selalu ada padang rumput hijau
di tepi sungai jernih gemerlapan
Aku akan menutup mata

biarkan indraku yang lain mengembara
‘kan kusentuh dedaunan dan rumpun bunga
‘kan kuhirup segar dan kayanya udara
dan biarkan hatiku merasa
satu uluran tangan yang begitu kudamba
akankah kau ada di sana?